AQIQAH

Aqiqah Bolehkah Diabaikan?

Bagi Anda umat Islam, pasti istilah aqiqah sudah sangat akrab di telinga dan bukan sebuah kata yang asing sama sekali. Ya, aqiqah secara bahasa memiliki arti pemotongan hewan yang dilakukan menggunakan syariat Islam. Secara khusus aqiqah berfungsi sebagai ungkapan rasa bahagia dan syukur kepada Allah SWT atas kelahiran bayi. Menurut pendapat jumhur ulama, hukum aqiqah adalah sunah muakadah bagi yang mampu.


Menurut Imam Ahmad dan Tirmidzi yang diriwayatkan oleh Ummu Karaz Al Ka’biyah,  Rasulullah pernah bersabda mengenai aqiqah yaitu bahwa aqiqah untuk anak laki-laki adalah dua ekor kambing, sedangkan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Mengenai jenis kelamin kambing tidak ditentukan. Meskipun demikian, karena aqiqah dilakukan bagi yang mampu, maka ada beberapa ulama yang menyampaikan bahwa apabila secara finansial belum mampu, maka diperbolehkan anak laki-laki disembelihkan satu ekor kambing. Allah tidak pernah memaksakan kewajiban jika berkaitan dengan kemampuan finansial/harta setiap hambaNya. Sebagaimana Firman Allah dalam QS. At-Taghobun ayat 16 yang isinya:  “Bertakwalah kepada Allah semampu kalian


Lalu, bagaimanakah apabila orang tua benar-benar tidak mampu melaksanakan aqiqah untuk anaknya? Apakah kewajiban aqiqah menjadi gugur? Demikian pertanyaan yang banyak dilontarkan. Jika pada saat bayi berusia 7 hari, 14 hari, dan 21 hari orang tua benar-benar tidak mampu melaksanakan aqiqah karena kesulitan ekonomi, maka gugur tugas orang tua untuk mengaqiqahi anaknya, meskipun saat anak beranjak dewasa orang tua telah mampu secara ekonomi. Namun, berbeda jika pada saat kelahiran bayi orang tua telah memiliki kemampuan finansial untuk melaksanakan aqiqah tetapi menunda aqiqah karena sebab lain (bukan karena ketidakmampuan ekonomi), maka tugas untuk mengaqiqahi anaknya tidak gugur dan sebaiknya tetap diaqiqahi meski anak tersebut telah dewasa/balig.


Mengenai hukum mengaqiqahi diri sendiri ketika dewasa, terdapat beberapa pendapat ulama yang cukup menarik untuk didiskusikan. Pendapat pertama, disebutkan oleh Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 8: 322 (hadis tersebut sanadnya hasan menurut Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah nomor 2726). Al Hasan Al Bashri berpendapat, “Jika Engkau belum diaqiqahi, maka aqiqahiah dirimu sendiri jika Engkau seorang laki-laki”.


Pendapat kedua menyatakan bahwa hadis tentang mengaqiqahi diri sendiri dinyatakan lemah/daif. Beberapa hadis yang kuat menentang hal ini salah satunya adalah yang diriwayatkan oleh Imam Malik, beliau menyatakan bahwa para sahabat Rasulullah tidak satu pun yang mengaqiqahi diri sendiri ketika dewasa meskipun orang tuanya mampu menunaikan aqiqah ketika mereka masih belum balig. Jadi sebagian besar ulama sepakat bahwa hukum aqiqah berlaku pada orang tua yang memiliki kemampuan, jika sampai anak berusia balig dan orang tua belum mampu, maka hukum aqiqah menjadi gugur dan tidak pula dibebankan kepada anak jika kelak mereka dewasa.


Menurut beberapa penjelasan berbagai pendapat dan hadis di atas, dapat disimpulkan bahwa, aqiqah merupakan perintah agama yang hukumnya sunah muakadah. Meski hukumnya hanya sunah, tetapi aqiqah tetap memiliki keutamaan yang tidak boleh ditinggalkan jika Anda mengharapkan pahala saat melaksanakannya. Jadi bolehkah aqiqah diabaikan atau tidak? Pilihan mutlak ada di tangan Anda sebagai pelaksananya.