AQIQAH

Aqiqah Kendaraan Anakku di Surga

Setelah sembilan bulan mengandung, akhirnya hari yang dinanti untuk bertemu sang buah hati telah tiba. Segala persiapan dilakukan ketika dia lahir, dari mulai memberi nama, mengazani dan tiba saat tujuh hari kelahirannya, akikah akan digelar.

Meski hukum akikah sunah muakadah, sebaiknya orang tua melaksanakan sunah ini, karena akikah akan menjadi kendaraan anak kelak saat di surga. Menurut hadis  HR. Ahmad 20722, At-Turmudzi 1605, dan dishahihkan Al-Albani.

Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, dicukur gundul rambutnya, dan diberi nama.”

Menurut hadis di atas, makna kalimat “setiap anak tergadaikan dengan akikahnya” yaitu, anak yang meninggal sebelum balig dapat memberikan syafaat untuk kedua orang tua asalkan anak tersebut sudah diakikah. Jika anak tersebut belum diakikah, ibaratnya tergadai/terhalang sehingga tidak dapat memberi syafaat untuk kedua orang tuanya.

Selain itu, pendapat lain mengatakan bahwa, akikah merupakan jaminan keselamatan untuk anak tersebut agar terhindar dari segala bahaya selama hidupnya. Maka kalimat “setiap anak tergadaikan dengan akikahnya” bermakna, jika anak belum diakikah maka tidak akan mendapatkan jaminan keselamatan tersebut.

Menurut Ibnul Qoyim, kalimat “setiap anak tergadaikan dengan akikahnya” bermakna bahwa, bayi yang lahir masih diikat/diikuti oleh setan yang senantiasa menghalangi dari melakukan perbuatan baik dan amal saleh. Nah, jika bayi sudah diakikah, maka terlepas ikatan setan tersebut. Harapannya anak tersbut akan tumbuh menjadi insan bertakwa yang selalu melakukan amal perbuatan baik dan amal saleh sebagai tabungan akhiratnya kelak.

Jadi dari ketiga pendapat di atas, dapat ditarik benang merahnya bahwa makna kalimat “setiap anak tergadaikan dengan akikahnya” dalam hadis merujuk pada ikhtiar kedua orang tua dalam mempersiapkan anak untuk menjadi hamba Allah yang terbaik, selamat dan terhindar dari bahaya dalam perjalanan hidupnya, dan akhirnya pantas menjadi penghuni surga-Nya. Itulah mengapa disebutkan bahwa akikah dapat menjadi kendaraan anak kelak di surga.

Pelaksanaan akikah boleh disesuaikan dengan adat istiadat setempat dalam hal proses memasaknya. Misal di Aceh biasanya daging akikah dimasak dalam bentuk kuah beulagong, dan kemudian dimakan bersama keluarga, tetangga, dan fakir miskin atau anak yatim. Di Pulau Jawa, kebanyakan daging akikah dimasak menjadi sate dan gulai, kemudian juga dibagikan pada tetangga dan sanak saudara serta fakir miskin.

Hewan yang menjadi sembelihan untuk prosesi akikah harus memenuhi syarat seperti hewan kurban. Syaratnya antara lain, sehat, tidak cacat, gemuk, cukup usia (kambing minimal berusia 1 tahun dan domba 6 bulan). Berbeda dengan kurban yang lebih luas lingkup ketentuan jumlah dan jenis hewannya, untuk akikah sudah ditentukan jumlah maupun jenisnya, yaitu hanya diperbolehkan menyembelih kambing/domba dengan jumlah 2 ekor untuk bayi laki-laki dan 1 ekor untuk bayi perempuan. Namun, jika kondisi finansial kedua orang tua tidak memungkinkan, boleh saja hanya 1 ekor untuk bayi laki-laki maupun perempuan.

Setelah akikah dikerjakan, perasaan lega akan menghampiri para orang tua yang bisa melaksanakannya. Satu perintah agama sudah ditunaikan. Alhamdulillah.