AQIQAH

Perlukah Melakukan Aqiqah?

Pengabdian hamba kepada Sang Pencipta, salah satunya dengan menjalankan semua perintahnya. Perintah wajib harus dilaksanakan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab, namun jika mau bonus atau menambah pahala dianjurkan menjalankan perintah yang sunah. Sunah terbagi menjadi dua, ada sunah muakadah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan dan sunah ghairu muakadah, yaitu sunah biasa.

Perintah wajib, akan berdosa bila ditinggalkan. Sementara sunah, berpahala jika dikerjakan dan tidak berdosa bila ditinggalkan. Pada perintah yang bersifat sunah,  kita boleh memilih. Apabila belum  bersedia untuk mengerjakan, ya tidak apa-apa dan tentu kita tidak mendapatkan pahala, juga tidak berdosa. Namun sebagian orang rajin melaksanakan perintah yang sunah, hal itu karena mereka ingin mendapatkan bonus pahala. Sebagai hamba Allah yang tentu tidak sempurna, untuk menutup ketidaksempurnaan tersebut dengan memperbanyak mengerjakan ibadah yang sunah.

Salah satu sunah yang dianjurkan untuk dilakukan adalah sunah muakadah, salah satunya adalah melaksanakan aqiqah bagi anak-anak kita. Memang tidak berdosa bila ditinggalkan, namun sebagai seorang muslim hendaknya jangan meremehkan aqiqah berdasarkan sabda Rasulullah saw. berikut ini:

Setiap bayi tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelih untuknya pada hari ketujuh, digundul kepalanya dan diberi nama.(HR. Nasa’i, no. 4220, Abu Daud, no. 2838, Tirmidzi, no. 1522,  Ibnu Majah, 3165, dinyatakan shahih oleh Albany di Shahih Abi Dawud)

Dianjurkan untuk dilakukan bila kita mampu dan dilaksanakan 7 hari setelah anak lahir. Tidak dapat 7 hari, bisa dilakukan setelah 14 hari atau 21 hari. Apabila sampai anak itu balig dan belum dilaksanakan aqiqah, dapat dilaksanakan kapan saja bila mampu.

Dalam hadis di atas disebutkan bahwa “setiap bayi tergadaikan dengan aqiqahnya”, makna yang tersirat adalah aqiqah sebagai upaya tebusan dari orang tua untuk anaknya yang diyakini masih tergadai atau terikat dengan setan saat dilahirkan. Aqiqah perlu dilakukan untuk membebaskan anak dari ikatan setan yang mengikuti, agar bersih dari segala kotoran fisik dan jiwa. Selain itu, aqiqah juga bermakna sebagai wujud rasa syukur atas titipan yang telah Allah berikan dan juga hikmah untuk berbagi kepada fakir  miskin sebagai sedekah.

Pada hakikatnya Allah tidak akan memberatkan hamba-Nya, karena aqiqah boleh disembelih kapanpun waktunya. Tidak berdosa jika ditunda atau ditinggalkan karena tidak mampu, namun   jika mampu agar disegerakan pelaksanaannya. Karena hukum aqiqah adalah sunah muakadah,  seharusnya dilaksanakan bagi yang mampu. Imam Syafi’i berpendapat: orang yang sudah dewasa tapi belum diaqiqahi oleh orang tuanya, dianjurkan untuk melakukan aqiqah sendiri.

Syarat  hewan yang digunakan untuk aqiqah sama dengan hewan untuk qurban, yaitu: sehat dan tidak cacat fisiknya, gemuk, dan cukup umur. Jadi, sudahkah kita diaqiqahi oleh orang tua kita?